MANUSKRIP
MUSHAF AL-QUR`AN
KOLEKSI MUSIUM
MASJID AGUNG DEMAK
(Mushaf dalam rak kaca ke-6)
Abstrak
Museum Masjid Agung Demak banyak menyimpan peninggalan tentang sejarah Islam di Kabupaten Demak dan pulau Jawa di masa para walisanga. Ada berbagai peninggalan yang bisa kita temukan disana, diantaranya yaitu: makam Raden Fatah, gentong masa Dinasni Ming, sepotong kayu dari sakatatal Sunan Kalijaga, al-Qur’an yang ditulis tangan, pintu bledeg, miniatur Masjig Agung Demak, nama raja Demak sampai bupati Demak yang sekarang serta masa kepemimpinanya.
Namun dalam tulisan ini, penulis ingin menfokuskan penelitian pada salah satu manuskrip nusantara, yaitu mushaf pada rak kaca ke-enam. Penilitian ini menggunakan metode deskriptif analisi dan wawancara ditempat mushaf berada Penelitian ini menemukan bahwa mushaf kuno banyak ditemukan di daerah Demak, namun belum ada informasi yang jelas mengenai sejarah dan siapa yang menulis mushaf tersebut. dalam tulisan ini, penulis ingin mengungkap karakter manuskrip yang ada di Demak.Kata kunci: Mushaf kuno, Musium, Demak.
PENDAHULUAN
Naskah atau manuskrip merupakan
salah satu sumber primer yang paling otentik, yang dapat mendekatkan
jarak antara masa lalu dan masa kini, Naskah juga merupakan sumber yang sangat
menjanjikan bagi suatu penelitian, tentunya bagi mereka yang tau membaca dan
menafsirkannya. Naskah dapat disebut juga jalan pintas untuk mengetahui
khazanah intelektual dan sejarah social, kehidupan masyarakat lalu.[1] Naskah
kuno banyak merekam informasi dan pengetahuan masyarakat lampau yang diturunkan
secara turun menurun dari dulu hingga sekarang . Warisan budaya berupa naskah
tersebut bermacam macam bentuknya dan tersebar diseluruh indonesia dan ditulis
dengan berbagai bahasa dan aksara. Bahasa yang dipergunakan terkadang identik
dengan tempat naskah ditulis, seperti bahasa sunda diwilayah jawa barat bahasa
melayu disekitar wilayah Sumatera Utara dan Kalimantan Utara dan bahasa lainnya
yang disesuaikan dengan bahasa diwilayah masyarakatnya.[2]
Setiap penelitian yang
dilakukan tentunya harus menggunakan sumber , dan sumber dari segala sumber adalah
naskah atau manuskrip. Dimana naskah adalah tulisan awal dari setiap pemikiran
atau kegiatan yang dilakukan masyarakat pada masa lalu. Naskah pun memiliki
aksara dan bahasa yang berbeda beda, sesuai dengan wilayah naskah itu berasal,
tentunya perbedaan itu terletak pada pemahaman masyarakat itu sendiri dalam
bahasanya sehingga bahasa naskah sering disesuaikan dengan bahasa masyarakat
agar mudah dipahami.
Adapun dalam bahasa
latin naskah disebut codex dalam bahasa inggris disebut manuscript, dan dalam
bahasa belanda disebut Handshrift. Perlu diketahui bahwa pengertian bahan
tulisan dalam batu disebut epigrafi dan epigrafi merupakan bagian dari cabang
ilmu arkeologi . Pada intinya setiap naskah mempunyai sebutan yang berbeda beda
namun sama saja maksudnya yaitu dokumen yang ditulis dimasa lalu atau aktvtas
dimasa lalu yang memang perlu jika dikaji lebih dalam lagi. Adapun nama Naskah
itu sendiri adalah tulisan yang dituliskan dalam suatu tempat selain batu,
karena tulisan didalam batu tidak disebut naskah tetapi disebut dengan piagam
batu bersurat atau inskripsi yang dikaji dalam ilmu arkeologi.
Mushaf kuno banyak ditemukan di daerah Demak, namun belum ada
informasi yang jelas mengenai sejarah dan siapa yang menulis mushaf tersebut.
dalam tulisan ini, penulis ingin mengungkap karakter manuskrip yang ada di
Demak.
Penelitian mengambil judul Penafsiran Minnafsin Wahidah pada mushaf ke 6 Mnuskrip Al-Qur’an di Musium Masjid Agung Demak karena peneletian ini menarik dilakukan dalam manuskrip kaca ke 6 ini tidak hanya memuat ayat Al-Qur’an saja tetapi didalamnya disertakan tafsir.
PEMBAHASAN
A. Sejarah Masjid Agung Demak
Masjid ini didirikan oleh Raden Patah rada pertama dari
Kesultanan Demak Bintoro pada abad 15 masehi. Masjid ini mempunyai
bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama
yang disebut Saka Guru. Tiang ini konon berasal dari serpihan-serpihan kayu,
sehingga dinamai Saka Tatal bangunan serambi merupakan bangunan terbuka.
Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut saka
Majapahit.
Konon ketika Sunan Kalijaga kesulitan memperoleh kayu jati,
akhirnya mengumpulkan tatal-tatal dan diikat menjadi sebuah tiang yang hingga
kini masih dilestarikan. Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat
beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga
terdapat sebuah museu m, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat berdirinya Masjid Agung
Demak.
Museum Masjid Agung Demak adalah sebuah museum yang
terletak di dalam kompleks Masjid Agung Demak dalam lingkungan alun-alun
kota Demak. Masjid Agung Demak merupakan masjid tertua di Pulau Jawa,
didirikan Wali Sembilan atau Wali Songo. Museum ini menyimpan berbagai barang
peninggalan Masjid Agung Demak. Museum berdiri di atas lahan seluas 16 meter
persegi ini menyimpan benda-benda bersejarah yang mencapai lebih dari 60
koleksi.
Beberapa koleksi tersebut antara lain : bagian-bagian
sokoguru (sokoguru Sunan Kalijaga, sokoguru Sunan Bonang, sokoguru Sunan
Gunungjati, sokoguru Sunan Ampel , sirap, kentongan dan
bedug peninggalan para wali, dua buah gentong (tempayan besar) dari
Dinasti Ming hadiah dari Putri Campa abad XIV, Pintu Bledeg buatan Ki Ageng Selo
yang merupakan condrosengkolo berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani yang
berarti angka tahun 1388 Saka atau 1466 M atau 887 H, foto-foto Masjid Agung
Demak tempo dulu, lampu-lampu dan peralatan rumah tangga dari kristal dan kaca
hadiah dari PB I tahun 1710 M, kitab suci Al-Qur’an 30 juz tulisan tangan,
maket masjid Demak tahun 1845 – 1864M, beberapa prasasti kayu memuat angka
tahun 1344 Saka, kayu tiang tatal buatan Sunan Kalijaga, lampu robyong masjid
Demak yang dipakai tahun 1923 – 1936 M.[3]
B. Aspek Aspek Kodikologi dalam Manuskrip
Mushaf al-Qur`an Masjid Agung Demak
1. Tempat Penyimpanan
Naskah
manuskrip mushaf al-Qur`an Masjid Agung Demak tersimpan di Musium Masjid Agung
Demak, di sebuah ruangan di dalam etalase kaca, disimpan bersama
manuskrip-manuskrip lain dan yang sudah berumur tua. Masjid Agung Demak adalah
salah satu mesjid yang tertua di Indonesia. Masjid ini terletak di desa Kauman,
Demak, Jawa tengah. Masjid ini dipercayai pernah merupakan tempat berkumpulnya
para Wali Songo untuk penyebaran agama Islam. Bahkan para wali
bermusyawarah di masjid Demak untuk membahas penyebaran agama Islam di
Indonesia.
2. Kondisi Naskah pada mushaf yang ke-6
Berdasarkan pengamatan
pada kondisi fisik, naskah ini secara umum dalam kondisi baik, masih bisa
terbaca dan tidak utuh. Pada halaman yang terbuka berisi awal surat An-Nisa`
dan telah ayat terdapat penafsiran dengan huruf pegon jawa. Nasakah ini di
dalamnya masih bagus dan utuh huruf-hurufnya terlihat jelas dan bisa di baca.
3. Sampul Naskah
Naskah pada Mushaf kaca
yang ke-6 ini, kami penulis tidak dapat membuka sampulnya karena dalam
penelitian, kami belum bisa memiliki akses untuk membuka langsung Mushaf Qur’an
yang ada dalam etalase Musium.
4.
Judul Naskah
Mushaf ini belum pernah diteliti sebelumnya dan pihak penelolah musium juga belum melakukan inventarisir terhadap naskah ini. Karena kami hanya tertuju pada manuskrip Qur`an pada mushaf kaca ke-enam, Maka Penulis memberi nama manuskrip ini dengan “Manuskrip Mushaf Al-Qur`an di musium masjid agung demak pada mushaf kaca ke-enam”.
5.
Nomor Naskah
Nomor naskah diberikan pada setiap
manuskrip sebagaimana biasa terdapat pada koleksi museum agar mudah
menemukannya jika dibutuhkan.[4]
Pada Naskah Manuskrip ini tidak ditemukan nomor naskah. Naskah ini disimpan di
etalase berjejer dengan manuskrip lain yang juga tidak ada nomor naskahnya.
6. Ukuran Naskah
Ukuran naskah ada dua
macam: ukuran lembaran naskah dan ukuran bagian teks (bidang teks yang berisi
tulisan). Ukuran lembaran naskah adalah ukuran lembar kertas. naskah yang biasa
terbuat dari daluang, lontar atau kertas Eropa. Ukuran ini terdiri dari panjang
dan lebar lembaran kertas naskah. Adapaun ukuran bidang teks terdiri dari
panjang dan lebar ruang pada naskah yang berisi teks. Setelah dilakukan
pengamatan pada Manuskrip Al-Qur`an, terdapat ukuran sebagai berikut: Ukuran
lembar kertas naskah memiliki ukuran kurang lebih 32x21 cm.
6. Model Aksara dan Bahasa Naskah
Manuskrip Al-Qur`an pada kaca ke-6 ditulis menggunakan bahasa Arab dengan huruf hijā`iyyah sebagaimana kebiasaan penulisan al-Qur`an pada umumnya. Menggunakan bahasa Arab dan Pegon. Dalam penulisannya menafsirkan Ayat Al-Qur`an dengan bahasa jawa yang di tulis dengan huruf Pegon, Ukuran huruf 1 cm, ditulis dengan agak renggang antar huruf dan rata pinggir. Jarak baris 0,5 cm.
Huruf-huruf naskah
ditulis menggunakan tinta utama hitam untuk menuliskan ayat-ayat al-Qur`an dan
Penafsirnya. dalam penulisannya pertama di tulis ayat Al-Qur`an kemudian
terdapat tanda sama dengan (=) utuk meneruskan penafsiran ayatnya, disini tidak
terdapat harakat didalam ayat yang di tulis, tanda mad ṭābi’ī dan mad jā`iz,
nama surat. Adapun bagan iluminasi juga tidak ada didalam penulisan Musahaf
ini.
7. Jumlah Halaman
Setelah dilakukan
pengamatan terhadapa mushaf ke-enam ini, karena penulis juga tidak mendapat
akses untuk membuka mushafnya secara langsung dan hanya bisa melihat di bagian
tengah isi mushaf, yang penulis amati pada bagian tengah mushaf yang di dapati
disana tertulis pada halaman 324 dan 325 di perkirakan ada skitar 700 halam.
Belum di ketahui Ada bagian lembar yang hilang atau tidak.
8. Jumlah Baris
dan Panjang Baris
Jumlah baris adalah
jumlah barisan teks yang terdapat dalam naskah manuskrip. Manuskrip Al-Qur`an
pada kaca ke-enam memiliki jumlah 25 baris setiap halamannya. Jumlah ini
konsisten dari awal naskah hingga akhir naskah, kecuali pada bagian akhir
naskah dikarenakan tulisannya dibingkai dalam bingkai iluminsi dengan ukuran
yang besar. Adapun rata-rata panjang baris pada manuskrip ini adalah 11,50 cm.
9. Bahan Naskah
dan Watermark
Ada banyak bahan yang
digunakan umtuk membuat naskah, bisa berupa papirus, kertas Eropa, daluang,
lontar atau bambu. Diantara bahan-bahan tersebut, yang paling banyak digunakan
adalah kertas. Dalam pernaskahan Nusantara, bahan yang paling banyak digunakan
adalah kertas Eropa. Salah satu ciri kertas Eropa adalah mepunyai watermark
(cap kertas) yang bisa terlihat jika diterawang di balik cahaya. Selain cap
kertas, ciri pada kertas Eropa adalah terdapat Countermark (Cap tandingan), cap
tandingan ini penting sekali untuk penanggalan cap kertas. Pada kertas Eropa
juga teradapat tanda yang berupa garis mendatar atau horisontal tipis yang disebut
dengan laid lines atau wire line dan garis membujur atau vertikal lebih tebal
yang disebut dengan chain lines.[5]
Berdasarkan pengamatan pada Manuskrip Qur`an ke-Enam, naskah ini terbuat dari
kertas Eropa.
10. Cara Memperoleh
Naskah
Naskah Mushaf Al-Qu`an ke-Enam ini pada awalnya tersimpan bersama Mushaf Al-Qur`an yang lain di etalase Musium Masjid Agung Demak dalam etalase. Dalam satu etalase ini terdapat 18 mushaf Al-Qur`an yang di temukan di tempat yang berbeda-beda ada yang di temukan di lantai dua masjid, ada yang di beri dari kolektor, yang memang mushaf ini asli dari demak dan di kembalikan kepada mereka. Narasumber tidak dapat menebutkan nama-nama dari mushaf yang terdapat dalam etalase ini karena belum ada yang meneliti mushaf Al-Qur`an sebelumnya dan pihak musium sendiri belum melakukan isnvesterisi pada mushaf-mushaf ini.[6] Melalui pengamatan pada iluminasi dalam tulisanya, ditemukan bahwa di dalamnya terdapat tulisan arab dan tulisan jawa pegon, dari Tulisan pegon ini menandakan karakteristik al-Qur`an di pulau Jawa, dengan begitu naskah ini diyakini sebagainaskah mushaf Jawa.
KESIMPULAN
Museum
Masjid Agung Demak adalah sebuah museum yang terletak di dalam kompleks
Masjid Agung Demak dalam lingkungan alun-alun kota Demak. Masjid
Agung Demak merupakan masjid tertua di Pulau Jawa, didirikan Wali Sembilan atau
Wali Songo. Museum ini menyimpan berbagai barang peninggalan Masjid Agung Demak
salah satunya adalah manuskrip mushaf Al-Qur’an pada rak kaca ke-enam. Manuskrip Mushaf Al-Qur`an ini digunakan sebagai mushaf Nusantara, dalam
mushaf ini terdapat ayat Al-Qur’an dan Tafsirnya yang belum diketahui siapa
penulisnya, dikarenakan datanya kurang valid dan pihak musium juga tidak
melakukan investaristasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Oman Faturahman,dkk. 2010.
Filologi dan Islam
Indonesia,
Jakarta: Badan Litbang.
Gio
David Widiesa.
2013.
Pribadi
Rasa Pangrasa Sorangan, skripsi, Bandung:
Univesitas Pendidikan
Indonesia.
https://asosiasimuseumindonesia.org/anggota/160-museum-masjid-demak.html
Raden Edi Sumarsono. Wawancara, Demak 19 Juni 2022.
[1] Oman Faturahman,dkk. Filologi dan Islam Indonesia,
(Jakarta: Badan Litbang,2010), hal 3-4.
[2] Gio David Widiesa,
2013, Pribadi Rasa Pangrasa
Sorangan, skripsi, Bandung:
Univesitas
Pendidikan
Indonesia, hlm 1.
[3] https://asosiasimuseumindonesia.org/anggota/160-museum-masjid-demak.html
(diakses pada 22
Juni 2022, Pukul 09.18)
[4] Sebagaimana
pengamatan pribadi penulis terhadap koleksi manuskrip di museum al-Qur`an yang
ada di muisum masjid agung demak ketika
melakukan Praktek Kuliah Lapangan di Demak, Juni
2022.
[5] Oman Fathurrahman, Filologi Indonesia, Teori dan Metode, hlm.117
[6] Bapak Raden Edi Sumarsono, Wawancara, Demak
19 Juni 2022.

0 Komentar